Soekarno Lengser, Demam Konten Film Porno di Bioskop Merajalela - Kaca Tama

Kaca Tama

Baca-baca aja dulu siapa tau penemuan...

Breaking

Sunday, July 14, 2019

Soekarno Lengser, Demam Konten Film Porno di Bioskop Merajalela


Iklan film bioskop pada tahun 1970-an

Perilaku manusia itu unik. Bila ditekan dan dihalangi oleh sesuatu kekuatan yang tidak bisa dilawan maka akan diam, tetapi bukan sekadar diam. Ia sedang mengakumulasi sesuatu yang kelak menjadi pemicu “balas dendam”.
Begitu penghalang itu tidak ada lagi, apa yang dahulu tidak boleh, akan menyembur mencari pelampiasannya. Kira-kira begitulah dengan fenomena demam jenis film bioskop yang digemari masyarakat Jakarta pada era 1960-an dan 1970-an.

Firman Lubis dalam Jakarta 1960-an (2008: 192), menyatakan bahwa “hiburan utama bagi mahasiswa di tahun 1960-an adalah menonton film di bioskop.” Mahasiswa akan berbondong-bondong membanjiri bioskop di setiap akhir pekan tiba.
Pada masa ini, film-film Amerika jarang diputar. Ini terkait kebijakan Pemerintah Soekarno (Orde Lama) yang sedang memerangi budaya Barat yang katanya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
Pemimpin Hipokrit
“Saya masih ingat kantor perusahaan importir film Amerika, American Motion Picture Association of Importers (AMPAI) yang letaknya di pojok Jalan Veteran, Jakarta Pusat, pernah didemo oleh pemuda-pemuda revolusioner (terutama pemuda aliran komunis, yakni Pemuda Rakyat),” tulis Firman Lubis.
Para pemuda menuntut penghentian masuknya film-film Barat karena dianggap mendukung nekolim (neokolonialis dan neoimperialis). Mereka juga membentuk Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS).
Pernah berhembus isu bahwa direktur AMPAI, Bill Palmer, adalah agen CIA. Oleh sebab itu, muncul banyak tuntutan mengusirnya. Bungalow milik Bil Palmer di Puncak, Bogor, diobrak-abrik oleh para pemuda. Hal ini pernah ramai diberitakan di koran-koran. 
Sebagai pengganti film Barat, diputarlah film-film produksi Rusia, Eropa Timur, dan Cina, Jepang, atau film Nasional. Puncaknya pada tahun 1965, semua film produk Amerika semuanya dihentikan.

Di mata Firman Lubis, kebijakan tersebut sebenarnya tidak membuatnya suka. Katanya, “Terus terang saya kurang menyukai film-film dari negara sosialis itu karena tidak sesuai dengan selera saya dan kurang realistis.”
Yang menarik menurut Firman Lubis, walaupun film Amerika distop, Bung Karno konon suka memutar film Amerika di istana setiap minggu. “Aneh, tetapi inilah ciri pemimpin bangsa kita, hipokrit. Do as I say, not what I do,” tegasnya.
Bersama teman-teman mahasiswa, Firman Lubis biasanya menonton film di bioskop yang dekat dengan kampusnya (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), yakni di bioskop Megaria (Metropole) dan Garden Hall di komplek Kebun Binatang Cikini (sekarang Taman Ismail Marzuki).
Nonton bioskop bagi kalangan mahasiswa adalah kegiatan yang paling menyenangkan, apalagi usai menjalani ujian. Selama menonton selalu dihiasi canda tawa bersama teman mahasiswa, selanjutnya ditutup dengan makan atau jajan bersama.
Di sisi lain, menonton bioskop di masa itu bisa pula dikatakan sebagai hiburan audio visual yang paling “wah” sebab belum ada banyak stasiun televisi layaknya sekarang.  Satu-satunya tontonan hanya dari stasiun TVRI yang baru berdiri pada 1961, yakni menjelang pelaksanaan Asian Games.
Orde Baru Keblinger
Huru-hara politik melanda Jakarta pada 30 September 1965. Gerombolan yang menamakan diri Gerakan 30 September (G30S) menculik dan membunuh tujuh jenderal angkatan darat (TNI AD).
Peristiwa ini mengawali proses lengsernya Presiden Soekarno dan tumbangnya rezim Orde Lama. Lahir era baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto yang menamakan diri Orde Baru.
Seperti di awal telah disinggung, dalam kebijakan pemutaran film di bioskop, kebijakan Orde Baru berbeda 180 derajat dengan era sebelumnya.
Film Barat tidak lagi dihalang-halangi bahkan justru kemudian merajai jagad hiburan di Jakarta dan kota-kota besar di seluruh Nusantara. Selain jenis genre film laga, romantis, drama, muncul pula jenis-jenis konten film mesum produk budaya Barat.
Mengenai konten film yang mengandung unsur porno, sebenarnya ada pembatasan (lembaga sensor). Akan tetapi, di tahun 1970-an, sensor terkesan hanya lips service belaka. Munculah fenomena baru di Jakarta. Masyarakat (terutama kawula muda) mengalami demam konten film mesum produk budaya Barat.
Gambaran fenomena ini dikisahkan Zeffry Alkatiri dalam Pasar Gambir, Komik Cina, dan Es Shanghai: Sisik Melik Jakarta 1970-an (2010: 19-20). Dekade 1970, muncul peredaran konten film porno di berbagai bioskop. Yang paling terkenal adalah film produksi Italia.
“Dari semua film (mengandung unsur porno, red) yang terkenal berjudul Private Teacher,” tulis Alkatiri. Film ini sempat bertahan lama di beberapa bioskop Jakarta baik kelas I maupun kelas II.

Pemeran utama film itu adalah aktris cantik bernama Edwich Fenech. Tampangnya kalem, “tetapi kalau sedang bermain di film, ia menjadi binal dan suka buka-bukaan,” terang Alkatiri.
Jenis film semacam ini juga diproduksi oleh produser film dari Hongkong. Selain film berjenis silat, film yang diproduksinya dan sangat laku di Jakarta adalah film yang cenderung menyuguhkan adegan-adegan berbau porno.
Supaya semakin menarik perhatian, promosi film mesum juga dilakukan dengan memasang baliho besar-besar dengan penampakan yang hot dan vulgar di depan bioskop. Parahnya, kecenderungan ini juga ditiru oleh film-film yang diproduksi oleh produser film dari dalam negeri.
Reklame film di era 1970 tidak hanya melalui baliho di bioskop. Promosi juga dilakukan di koran-koran hingga dengan menggunakan mobil keliling dan masuk ke pelosok kota Jakarta. Cara ini juga ditiru di kota-kota lain di seluruh Nusantara.
Promosi film melalui pengeras suara dari mobil keliling membuat anak-anak berlarian mendekati mobil. Selebaran tentang tayangan film kemudian dibagikan atau dilemparkan dari mobil yang berjalan lambat ke orang-orang di pinggir jalan.
Bila film itu mengandung unsur sedih, diteriakkan juga agar penonton “jangan lupa membawa sapu tangan.” Seruan semacam ini biasanya untuk film-film produksi India.
Menurut catatan Alkatiri, selain film mesum di bioskop, anak-anak SMP hingga SMA di tahun 1970-an juga sudah mengenal berbagai jenis film blue film (film biru digunakan untuk menjuluki fim porno). Jenis film ini benar-benar vulgar dan terang-terangan memamerkan adegan persetubuhan.

Mulanya, film masih berbentuk gulungan dan diputar dengan proyektor dengan sembunyi-sembunyi. Tentu saja, hanya anak orang kaya yang bisa menikmati jenis film semacam ini.
Akan tetapi, ketika muncul film porno dalam bentuk betta (HVS), orang sudah tidak lagi memerlukan proyektor yang serba ribet dan ruwet. Dengan memasukkan kaset ke dalam mesin pemutar, anak-anak remaja yang sedang demam film porno bisa mengenal adegan ranjang.
Tentu saja, mereka menontonya masih tetap sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan orang tua mereka. Bila ketahuan, tentu saja menjadi semacam aib memalukan bagi kalangan remaja.
Munculnya versi HVS membuat penyebaran film porno di era Orde Baru menjadi semakin leluasa dan merambah ke pelosok kota hingga desa. Uniknya, perilaku semacam ini tetap dimulai dari kalangan orang kaya.
Keran budaya pornografi terbukti bukan muncul tiba-tiba. Pemerintah Orde Baru tentu saja paham terhadap fenomena baru yang berbeda dengan era Orde Lama. Ini adalah salah satu budaya keblinger di era Orde Baru.
Sayangnya, apa yang terjadi pada era-era selanjutnya, peredaran film porno justru semakin terbuka dan tak terbendung. Ketika muncul internet pertama kali, film porno adalah salah satu sajian unggulan yang digandrungi orang Indonesia.
Tentu saja, semua tetap berlangsung dengan “sembunyi-sembunyi” tetapi bersifat masif. Anak-anak yang masih ingusan pun kini sudah tahu di mana dan bagaimana cara menonton adegan persetubuhan.

No comments:

Post a Comment